SEJARAH DESA KAOTAN

  22 Maret 2017  |  DESA KAOTAN

Tidak banyak masyarakat yang tahu tentang asal usul desa Kaotan. Tokoh-tokoh tua yang paham dengan asal usul desa pun banyak yang sudah meninggal. Prasasti ataupun tanda-tanda yang terkait dengan cerita lahirnya Desa Kaotan juga sulit didapat.  Akhirnya Tim Penyusun mencoba  untuk menuturkan hasil wawancara dengan para tokoh-tokoh tua yang masih ada, dan didapat cerita yang kebenarrannya  juga belum teruji.

Dahulu kala sekitar abad 18 Desa Kaotan masih ditumbuhi dengan tanaman pohon-pohon besar dan belantara yang masih menutupi kawasan Desa yang bisa dikatakan hutan. Penduduk yang menghuni kawasan ini pun masih bisa dihitung dengan jari atau tidak banyak seperti sekarang ini.

Suatu saat warga menemukan pohon yang paling besar dan tinggi jika dibanding dengan pohon-pohon lainnya. Pohon ini berbuah kecil-kecil dan oleh warga diberi nama pohon NYAMPLUNGAN.

Dengan berkembangnya peradaban masyarakat pada saat itu yang masih tertinggal akibat dari pengaruh kaum penjajah yang menanamkan politik DEVIDE ET IMPERA, di setiap kelompok masyarakat dipengaruhi politik adu domba. Sampai-sampai masyarakat pun diadu oleh Penjajah dengan cara mengadakan Sayembara atau Lomba.

Isi Lomba itu adalah :

” Bagi kelompok warga yang bisa mengumpulkan buah Nyamplungan lebih banyak, itulah sebagai kelompok pemenangnya ”

Begitu pengumuman disampaikan oleh Ketua Kampung dari mulut kemulut ternyata respon warga sangat antusias sekali, baik dari kalangan kaum tua, muda, baik laki atupun perempuan.

Akhirnya lomba pun dilaksanakan dengan peserta dibagi menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu kelompok Barat dan kelompok Timur. Konon lomba ini dilaksanakan di ditengah-tengah perkampungan yang sekarang disebut Dusun Krajan Desa Kaotan.   Setelah lomba dilaksanakan dan perolehan buah nyamplungan yang paling banyak selalu dimenangkan oleh Kelompok Barat. Begitu setiap diadakan lomba perolehan tetapdimenangkan oleh Kelompok Barat, selalu Kaotan atau dengan bahasa Osingnya adalah KACEK atau selisih, maka atas prakarsa tokoh masyarakat pada saat itu Warga sepakat untuk memberikan nama Desa ini dengan sebutan Kaotan. Dan sampai sekarang pun peradaban masyarakat antara Kaotan Barat dengan Kaotan Timur selalu beda jika dlihat dari kesehariannya.

Di desa Kaotan ini ada acara ritual Selamatan Bersih Desa, yang dilaksanakan setiap bulan Rojab setiap tahun. Konon Selamatan Bersih Desa ini diselenggarakan ditiap Dusun, yaitu Dusun Krajan pada tanggal 12 Rojab sedangkan Dusun Krasak tanggal 14 Rojab. Hal ini dapat kami sampaikan lewat narasumber yang dapat dipercaya bahwa, ketika di abad 18 di Dusun Krajan terjadi penyakit yang mewabah, pagi sakit siang meninggal, siang sakit malam meninggal, malam sakit pagi meninggal dunia. Tokoh masyarakat pada saat itu resah, bimbang dan gusar karena rakyatnya banyak yang menderita sakit dan berakhir dengan kematian. Akhirnya suatu ketika ada salah satu warga yang bermimpi bahwa Warga Dusun Krajan harus melaksanakan ritual-ritual antara lain, keliling kampung sambil membaca do’a- do’a buat keselamatan masyarakat/ rakyat, rojokoyo dan tanaman yang tumbuh serta segala yang ada di Dusun Krajan  agar selamat dari penyakit, bala’ dan juga sihir (tenung), kegiatan ini biasa disebut dengan IDER BUMI.

Dan pada siang harinya dilaksanakan penyembelihan hewan berkaki empat (bisa kambing atau domba) dengan disaksikan oleh Tokoh tokoh / pemuka masyarakat dan Agama, yang kemudian daging dari khewan yang disembelih tadi malamnya digunakan untuk Selamatan Bersih Desa di Dusun Krajan. Pada malam Selamatan Bersih Desa ini para Pemuka dan Tokoh Masyarakat berkumpul dengan dibacakan Kitab Lontar sampai tamat oleh Pemuka Adat secara bergiliran pada saat itu, sampai menjelang subuh. Agar tidak mengantuk sambil mendengarkan bacaan kitab lontar ini, yang lain saling jual beli pantun (basanan) ada pantun yang kocak, ada pantun yang memberi nasehat ada juga pantun yang berupa sindiran, sehingga suasana tetap seger bersahabat dan tidak mengantuk sampai menjelang subuh.

Pagi harinya Kamituwo (Kepala Dusun) Krajan melapor kepada Kepala Desa (Lurah) SUWONGSO yang saat itu bertempat tinggal di Dusun Krasak, bahwa telah dilaksanakan acara ritual untuk menolak balak sebagaimana yang diuraikan diatas, dan akhirnya Kepala Desa memerintahkan kepada Warga Dusun Krasak lewat Kamituwo untuk menjalankan acara ritual Selamatan Bersih Desa di Dusun Krasak.

Dengan berkembangnya waktu acara Pembacaan Lontar dan jual beli pantun (basanan) ini diganti dengan mengundang kesenian Mocoan/ Pacul Guwang,  yang pada saat itu terkenal dengan sebutan ALJIN, atau SUBER karena pemeran seni MOCOAN yang terkenal pada saat itu adalah ALJIN atau SUBIR.

Dari tahun ketahun Selamatan Desa ini sedikit demi sedikit mengalami perubahan. Pada Tahun 1989 menjelang kepemimpinan Kades M. MOELJO RAHARDJO berakhir Yang semula Dua Dusun melaksanakan secara bergantian disederhanakan menjadi satu kegiatan hari/ tanggal yang sama. Alasannya adalah evisiensi dan untuk menghindari pemborosan.

Contact Details

  Alamat :   Jln. KH. Rosyied No. 12 Desa Kaotan Kecamatan Blimbingsari Kabupaten Banyuwangi
  Email : desakaotan3@gmail.com
  Telp. : -
  Instagram : @Desa Kaotan
  Facebook : Desa Kaotan
  Twitter : -


© 2019,   Web Desa Kabupaten Banyuwangi